Topik » Pesawat Jatuh , Mayat ,
Getting time...

JAWA TIMUR »  ETALASE

Demi Anak, Tak Peduli Peringatan Tsunami

Rus Akbar - OKEZONE
Selasa, 2 Oktober 2012 12:29 wib
Demi Anak, Tak Peduli Peringatan Tsunami
Qurrata Ayuna (Foto: Okezone/Rus Akbar)

PADANG - Adrianus (53), warga Bandar Buat, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, mengenang peristiwa dahsyat gempa bumi 7,6 Skala Richter, yang mengguncang Sumatera Barat dan sekitarnya.

Dalam musibah itu, Adrianus nyaris kehilangan putrinya, Qurrata Ayuna. Saat itu Ayuna sedang mengikuti bimbingan belajar di Gedung Gamma, Jalan Proklamasi, Padang.

”Saya sadar saat terjadi gempa anak saya sedang ikut bimbel di Gamma. Kendaraan saya pacu, tak peduli macet karena banyak warga panik, yang penting saya harus sampai di tempat anak saya,” tutur Adrianus kepada Okezone.

Adrianus bertambah panik setelah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan potensi tsunami sekira pukul 17.15 WIB. Maklum, lokasi tempat bimbel anaknya hanya satu kilometer dari pantai.

Selama dua jam 20 menit dia berjuang mencapai lokasi bimbel anaknya, padahal dalam kondisi normal hanya 20 menit.

Adrianus terperangah melihat gedung berlantai tiga tersebut sudah runtuh. Personel TNI dan relawan sedang bekerja menggali reruntuhan bangunan tersebut.

Lima jam setelah gempa, baru korban dievakuasi satu per satu. ”Saya baru tahu bahwa yang dievakuasi dan dimasukkan ke dalam ambulans itu anak saya,” ungkapnya.

Saat itu, Ayuna masih sadar. Adrianus sempat menyapanya. ”Nak, ini Bapak, kita harus ke rumah sakit dengan ambulans. Akhirnya dia dibawa ke RSUP M Djamil,” ujar Adrianus menirukan pernyataannya kepada Ayuna kala itu.

Di rumah sakit suasana sudah sesak dan penuh jerit histeris. Para dokter terlihat sangat dan Ayuna hanya ditangani mahasiswa kedokteran yang sedang praktik. Hasil pemeriksaan, kaki kiri Ayuna patah, betis serta beberapa sendi-sendi tulangnya bergeser.

”Pada 19 Oktober 2009 dokter memutuskan kaki kirinya harus diamputasi karena kondisinya sudah bengkak. Saya mengira ini akibat pembalut kakinya tidak bagus dipasang sehingga terjadi pembekakan. Soalnya, saat gempa itu hanya mahasiswa praktik yang menangani, sementara dokter sibuk mengurus korban lainnya,” ungkapnya.

Ayuna menerima dengan ikhlas kenyataan harus kehilangan kaki kirinya. ”Empat hari kemudian dokter kembali memutuskan kaki kanannya juga harus diamputasi kalau tidak bisa membusuk,” sambungnya.

Amputasi sudah dilakukan, namun bukan berarti penderitaan Ayuna berakhir. Setelah dioperasi, Ayuna muntah darah hingga dia dirawat kembali di rumah sakit. Setelah diperiksa, ternyata ada luka di dalam tubuhnya. Beruntung, luka di dalam tubuhnya dapat segera diatasi.

Sementara itu, Ayuna yang kini bersekolah di SMAN 10 Padang itu bertutur, saat gempa, dia bersama teman-temannya lari keluar gedung. Belum sampai keluar gedung, bangunan sudah runtuh. Material bangunan menimpa dia dan kawan-kawannya.

Hanya dalam hitungan detik, bangunan runtuh akibat guncangan dahsyat. ”Saat diselamatkan, saya setengah sadar. Relawan menyelamatkan saya saat hari sudah malam,” katanya.

Kini, meski mengalami cacat permanen, Ayuna tetap semangat menjalani hidup. Musibah gempa lebih meyakinkan dirinya untuk menggapai cita-citanya menjadi dokter. Dalam kondisi seperti dialaminya, hanya dokter yang dapat membantu. ”Saya optimistis akan bisa mencapai cita-cita tersebut,” ujarnya yakin.
 

(ton)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Facebook Comment List

BACA JUGA »