Getting time...

JAWA TIMUR »  GREATER JATIM

Penolakan Santri Jadi Polisi, Pecah Konsentrasi NU

Nurul Arifin - OKEZONE
Jum'at, 20 Juli 2012 10:57 wib
Penolakan Santri Jadi Polisi, Pecah Konsentrasi NU
Wakapolres Sumenep berbicara kepada para santri (Dok: Sindo TV/A Rahem)

SURABAYA - Imbas penolakan alumni Madrasah Aliyah An-Nuqayah, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, saat mendaftar menjadi bintara polisi di Polres Sumenep, kian memanas. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, menuding adanya diskriminasi terhadap lulusan pesantren.

Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur, KH Mutawakkil Alallah, mengaku kaget dengan insiden tersebut. Bahkan, NU yang seharusnya berkonsentrasi menjelang awal Ramadan, terbagi untuk meredam gejolak di Sumenep.

"Seharusnya PWNU menjelang Ramadan ini konsentrasi, tapi kami digoda dengan kasus yang melibatkan langsung masyarakat terutama komunitas pesantren," kata Muttawakkil, Jumat (20/7/2012).

Atas kejadian itu, diakuinya, pihaknya sudah meminta kepada segenap alumni pesantren untuk menahan diri dari amarah. PWNU berupaya menyeleseikan persoalan itu dengan meminta klarifikasi dari Kementrian Pendidikan Nasional dan Kementrian Agama atas penolakan alumni pesantren.

Muttawakkil mengatakan, tim PWNU Jatim sudah terjun ke lokasi dan hasilnya menemukan beberapa kejanggalan, yakni Kapolres Sumenep menunjukkan Surat Edaran dari Polda Jawa Timur tentang penerimaan anggota Polri tahun 2012. Dalam persyaratan pendaftaran bagian II butir 2 berbunyi,

"Khusus untuk lulusan pesantren sesuai dengan Surat Departemen Pendidikan Nasional yang diakui setara dengan SMA dan diperbolehkan mendaftar untuk menjadi anggota Polri adalah Ponpes Gontor (Ponorogo), Ponpes Al-Amien (Prenduan Sumenep), Ponpes Mathabul Ulum (Sumenep), Ponpes Moderen Al-Barokah Patianrowo (Nganjuk)".

"Surat itu tidak jelas dasarnya. Secara logika malah beberapa ponpes besar seperti Tebuireng (Jombang), Lirboyo (Kediri), Langitan (Tuban), dan lain-lain tidak boleh daftar menjadi anggota Polri. Ini kan namanya diskriminasi," tukasnya.

Menurut Muttawakkil, jika penolakan terjadi setelah tes, itu wajar. Bisa jadi yang bersangkutan tidak memenuhi syarat fisik dan dinyatakan gugur. "Lha ini baru mendaftar saja sudah dinyatakan ijazahnya tidak diakui," pungkas pengasuh Ponpes Genggong Probolinggo itu. 

(ris)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Facebook Comment List

BACA JUGA ยป